Tarjih Agriculture System Journal https://jurnal-umsi.ac.id/index.php/agriculture <p><strong>Tarjih Agriculture System Journal (ASJ) </strong>diterbitkan oleh Program Studi Agroteknologi, Fakultas Sains dan Teknologi, Universitas Muhammadiyah Sinjai. ASJ mempublikasikan artikel/karya ilmiah dan kajian-kajian ilmiah yang meliputi berbagai bidang keilmuan diantaranya Ilmu Tanah, Agronomi/Budidaya Tanaman, Hama dan Penyakit Tumbuhan, Pemuliaan Tanaman, Teknologi Benih, Mikrobiologi, Pascapanen dan Bidang Ilmu Pertanian yang terkait.</p> <p><strong>Tarjih Agriculture System Journal </strong>terbit pertama kali pada bulan Juni 2021. Tarjih ASJ menerbitkan 2 edisi setiap tahun pada bulan Juni dan Desember.</p> Program Studi Agroteknologi, Universitas Muhammadiyah Sinjai en-US Tarjih Agriculture System Journal 2798-8317 Aplikasi ZPT Bawang Merah terhadap Pertumbuhan Sambung Pucuk Tanaman Kakao (Theobroma cacao L.) https://jurnal-umsi.ac.id/index.php/agriculture/article/view/241 <p>Salah satu komoditas perkebunan yang peranannya cukup penting bagi perekonomian nasional yaitu Kakao <em>(Theobrema cacao L.)</em>. Namun produksi kakao sering mengalami penurunan. Hal tersebut disebabkan oleh teknologi pembibitan yang kurang tepat. Salah satu anjuran untuk memperbaiki produksi yaitu penggunaan klon&nbsp; dengan cara rehabilitasi tanaman kakao tua yang dipadukan dengan penggunaan ZPT sehingga dapat menghasilkan produksi yang lebih tinggi. Hasil Penelitian menunjukkan bahwa penggunaan ZPT Bawang Merah dan lama perendaman entres terhadap pertumbuhan sambung pucuk tanaman kakao pada semua parameter yang diamati berbeda dengan kontrol.</p> Fitrianti Fitrianti Ruslan Ruslan Copyright (c) 2021 2021-07-31 2021-07-31 1 1 1 6 Uji Preferensi Tribolium castaneum pada Beberapa Varietas Padi dan Kadar Air https://jurnal-umsi.ac.id/index.php/agriculture/article/view/242 <p><em>Tribolium castaneum </em>merupakan hama gudang yang banyak merusak produk pertanian. Termasuk dalam ordo Cloeptera, dan memiliki inang yang sangat beragam diantaranya gabah, beras, jagung, sorgum dan sebagainya. Hama tersebut mampu merusak gabah yang masih utuh dan berkadar air 12 %. Gabah yang rusak akibat serangan hama ini akan menjadi kotor dan terjadi perubahan komposisi kimia gabah sehingga menyebabkan gabah berbau dan berasnya tidak layak dikomsumsi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui preferensi <em>T. castaneum </em>pada beberapa jenis varietas padi dengan beberapa level kadar air. Penelitian ini dilaksanakan dalam bentuk percobaan faktorial dua faktor yang disusun berdasarkan rancangan acak lengkap. Faktor pertama adalah varietas padi yaitu : Varietas Membramo, Varietas Inpari 4, Varietas Cigelius, dan Varietas Ciherang. Faktor kedua adalah kadar air yaitu : Kadar air 16%, Kadar air 14%, Kadar air 12% dan Kadar air 10%. Hasil Penelitian menunjukkan bahwa kepadatan populasi tertinggi terdapat pada varietas ciherang dengan rata rata 11 (ekor) dan kadar air 16% dengan rata rata kepadatan populasi pada setiap varietas yaitu varietas Membramo 6,5 (ekor), Inpari 4 5,5 (ekor), Cigelius 7,4 (ekor), dan Ciherang 11 (ekor). Penyusutan Bobot gabah tertinggi pada varietas Ciherang sebesar 10,73% dengan kadar air 16%. Preferensi <em>T. castaneum </em>&nbsp;pada varietas Ciherang dengan susut bobot 10,73%.</p> Ardiansyah Syafaat Bakhtiar Bakhtiar Rahmat Jahuddin Suriani Suriani Copyright (c) 2021 2021-07-31 2021-07-31 1 1 7 10 Inventarisasi Hama dan Musuh Alami di Pertanaman Kacang Panjang (Vigna sinensis L.) https://jurnal-umsi.ac.id/index.php/agriculture/article/view/243 <p>Pengendalian hama pada tanaman kacang panjang dengan memanfaatkan musuh alami merupakan alternatif pengendalian yang paling aman dan sangat direkomendasikan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keberadaan musuh alami predator dan parasitoid dipertanaman kacang panjang sebagai upaya pengendalian OPT. Jenis perangkap yang digunakan dalam penelitian ini yaitu&nbsp; perangkap lubang (<em>Pitfall Trap</em>), Perangkap kuning (<em>Yellow Trap</em>), Jaring ayun. Pengamatan dilakukan pada fase vegetatif dan generatif yang dimulai pada 1 minggu setelah tanam. Serangga yang terperangkap pada perangkap dari pertanaman kacang panjangakan dikumpulkan dan selanjutnya akan diidentifikasi di Laboratorium Fakultas Pertanian Universitas dengan menggunakan buku panduan identifikasi. Berdasarkan hasil penelitian serangga hama yang ditemukan adalah &nbsp;<em>Aulacophora falvomarginata</em>, <em>Aulacophora similis</em>, <em>Cerotoma trifurcata</em>, <em>Ophiomya phaseoli</em>, <em>Drosophilidae sp</em><em>.</em>, <em>Leptocorisa acuta</em>, <em>Aphis craccivora</em>, <em>Empoasca sp</em><em>.</em>, <em>Nilaparvata lugens Stal</em>, <em>Sogatella furcifera Stal</em>, <em>Spodoptera litura</em>, <em>Chloealtis conspersa</em>, <em>Melanoplus bivittatus</em>, <em>Melanoplus femurubrum</em>,dan<em>Gryllus mitratus.</em>Musuh alami yang ditemukan sebanyak 11 spesies predator dan 1 spesies parasitoid pada pertanaman kacang panjang. Jenis predator yang ditemukan adalah <em>Lycosidae sp.</em>, <em>Lynipidae sp.</em>, <em>Oxyopes javanus</em>, <em>Carabidae sp.</em>, <em>Menochilus sp.</em>, <em>Paederus sp.</em>, <em>Ischiodon scutellaris</em>, <em>Anoplolepis gracilipes</em>, <em>Paratrechina Longicornis</em>, <em>Vespa affinis</em>, <em>Orthertrum sabina</em>, dan parasitoid <em>Tersilochus sp</em>.</p> Sulfiani sulfiani Rahmawati Rahmawati Asrul Sani Aslidayanti Aslidayanti Rosmala Dewi Aprilia Triasni Copyright (c) 2021 2021-07-31 2021-07-31 1 1 11 15 Uji Antagonis Trichoderma sp. Terhadap Penyebab Penyakit Layu Fusarium sp. Pada Tanaman Tomat (Lycopersicum esculantum Mill) https://jurnal-umsi.ac.id/index.php/agriculture/article/view/244 <p>Penyakit layu Fusarium yang disebabkan oleh<em> Fusarium oxysporum</em> f. <em>sp.</em> <em>lycopersici</em> merupakan penyakit yang sering menjadi kendala pada budidaya tanaman tomat. Pengendalian penyakit layu fusarium selama ini masih sangat mengandalkan penggunaan pestisida sintesis. Penggunaan pestisida sintesis seperti jenis pestisida lainnya secara terus menerus telah diketahui menimbulkan dampak negatif. Salah satu teknik pengendalian penyakit layu fusarium dapat dilakukan dengan memanfaatkan agen hayati yang bersifat antagonis seperti <em>Trichoderma </em><em>sp</em>. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui konsentrasi <em>Trichoderma </em>sp. yang efektif dalam mengendalikan Penyakit Layu <em>Fusarium </em>pada tanaman tomat. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa semakin tinggi ukuran koloni cendawan antagonis <em>Trichoderma </em>sp maka tingkat antagonisnya suatu cendawan akan semakin tinggi. Inokulasi kultur cendawan <em>Trichoderma </em>sp 0,5 cm telah mampu menekan pertumbuhan cendawan <em>Fusarium </em>sp pada media PDA hingga 54 %.</p> Ade Sugiarti Kumalasari Rahmat Jahuddin Anggun Anggun Copyright (c) 2021 2021-07-31 2021-07-31 1 1 16 22 Potensi Mikroba Antagonis Bacillus cereus dan Trichoderma sp. Terhadap Patogen Penting Tanaman Jagung https://jurnal-umsi.ac.id/index.php/agriculture/article/view/245 <p>Salah satu masalah dalam peningkatan produksi jagung di Indonesia adalah penyakit penting tanaman jagung diantaranya penyakit hawar daun dan penyakit busuk. Pengendalian penyakit tanaman jagung umumnya masih menggunakan pestisida. Namun, penggunaan pestisida yang kurang bijaksana dapat menimbulkan dampak negatif terhadap lingkungan maupun makhluk hidup. Salah satu pengendalian ramah lingkungan penyakit tanaman yaitu pemanfaatan mikroba antagonis <em>Bacillus cereus </em>dan <em>Trichodema </em>sp.&nbsp; Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui potensi mikroba antagonis <em>B. cereus</em> dan <em>Trichoderma sp.</em> dalam menghambat pertumbuhan <em>B. maydis</em> dan <em>R. solani </em>pada tanaman jagung secara <em>in vitro</em>. Penelitian ini dilaksanakan dalam bentuk metode biakan ganda dengan perbandingan 1 : 1 secara <em>in vitro</em> dalam satu cawan konfrontasi atau modifikasi <em>co-culture method</em>. S<sub>3 </sub>S = isolat <em>B. maydis </em>ditumbuhkan bersama <em>B. cereus</em>, S<sub>4 </sub>S = isolat <em>B. maydis </em>ditumbuhkan bersama <em>Trichoderma sp.</em>, S<sub>1</sub> S = isolat <em>R. solani</em> ditumbuhkan bersama <em>B. cereus</em>, S<sub>2</sub> S = isolat <em>R. solani</em> ditumbuhkan bersama <em>Trichoderma sp., </em>Kontrol = isolat <em>B. maydis </em>dan <em>R. solani</em> ditumbuhkan tanpa mikroba antagonis, masing-masing diulang sebanyak 5 kali. Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa mikroba antagonis <em>B. cereus</em> dan <em>Trichoderma sp.</em> berpotensi menghambat pertumbuhan dan perkembangan <em>B. maydis </em>dan <em>R. solani</em>. Persentase penghambatan terhadap <em>B. maydis</em> pada hari ke-7 setelah inokulasi isolat S<strong><sub>3</sub> </strong>S (<em>B. cereus </em>dan <em>B. maydis</em>) memiliki daya hambat sebesar 68.42% dan isolat S<sub>4 </sub>S (<em>Trichoderma sp. </em>dan <em>B. maydis</em>) memiliki daya hambat 63.33%. Sementara persentase penghambatan terhadap <em>R. solani</em> isolat S<strong><sub>1</sub> </strong>S (<em>B. cereus </em>dan <em>R. solani</em>) memiliki daya hambat sebesar 55. 55% dan isolat S<sub>2 </sub>S (<em>Trichoderma sp. </em>dan <em>R. solani</em>) memiliki daya hambat 71. 11%.&nbsp;&nbsp;</p> A.Eka Lestari Ariyanti Suriani Suriani Surya Sulkarnain Wahab Copyright (c) 2021 2021-07-31 2021-07-31 1 1 23 29