https://jurnal-umsi.ac.id/index.php/tropical/issue/feedTarjih Tropical Livestock Journal2025-12-28T08:12:03+00:00KhaeruddinErukhaeruddin@gmail.comOpen Journal Systems<p>Tarjih Tropical Livestock Journal adalah jurnal yang diterbitkan Program Studi Peternakan Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Muhammadiyah Sinjai, diterbitkan 2 kali (edisi) setahun Juni dan Desember.</p> <p>Jurnal ini bertujuan untuk menerbitkan artikel hasil penelitian ilmiah sebagai bentuk penyebarluasan temuan-temuan dalam bidang peternakan yang berkualitas dan memiliki nilai kebaharuan sehingga dapat dimanfaatkan oleh para akademisi sebagai bahan referensi dan juga dapat dimanfaatkan oleh para praktisi.</p> <p> </p>https://jurnal-umsi.ac.id/index.php/tropical/article/view/1014Pemetaan Komoditas Peternakan Kabupaten Sumbawa Barat2025-10-25T10:35:02+00:00Hermansyah Hermansyahhermansyah@unram.ac.idMuh. Prasetyo Nugrohozakiaufaira719@gmail.comAnwar Fachryanwarfachry@unram.ac.idMoh. Taqiuddinmoh.taqiuddin@unram.ac.idRezki Amalyadirezkiamalyadi@staff.unram.ac.id<p>Sektor peternakan merupakan salah satu pilar penting dalam pembangunan ekonomi daerah di Nusa Tenggara Barat, sehingga pemetaan potensi peternakan di Kabupaten Sumbawa Barat menjadi langkah strategis untuk merumuskan arah pengembangan yang berbasis potensi lokal dan ketersediaan sumber daya pakan. Penelitian ini bertujuan memetakan potensi peternakan Kabupaten Sumbawa Barat, Provinsi Nusa Tengara Barat. Penelitian yang memotret potensi peternakan 8 kecamatan di Kabupaten Sumbawa Barat ini dilakukan menggunakan perpaduan pendekatan survei, <em>focus group discussion</em> dan analisis data sekunder. Fokus kajian yang dilaksanakan selama enam bulan pada paruh pertama tahun 2025 ini adalah ternak besar (sapi, kuda, kerbau) dan ternak kecil (kambing dan domba). Potensi serta keberadaan ternak besar dan kecil tersebut peluang pengembangannya merujuk terutama pada ketersediaan pakan di masing-masing kecamatan. Analisis data menggunakan analisis <em>L</em><em>ocation Question</em> (LQ), analisis <em>shift share</em>, analisis model rasio pertumbuhan dan pendekatan overlay. Hasil penelitian menunjukkan Kecamatan Poto Tano dan Jereweh merupakan wilayah yang unggul secara spasial dan fungsional berdasarkan hasil analisis L<em>ocation Question</em> (LQ), <em>Shift Share</em>, dan rasio pertumbuhan. Hasil analisis overlay mengindikasikan pentingnya pengembangan klaster ternak lokal berbasis pakan di zona Zona A (Kecamatan Poto Tano dan Jereweh) dan Zona B (Seteluk dan Taliwang) yang potensial dikembangkan sebagai kawasan penguatan bagi infrastruktur dan SDM. Adapun Kecamatan Maluk dan Brang Ene membutuhkan intervensi strategis untuk bisa berkembang.</p>2025-12-01T00:00:00+00:00Copyright (c) 2025 Hermansyah Hermansyah, Muh. Prasetyo Nugroho, Anwar Fachry, Moh. Taqiuddin, Rezki Amalyadihttps://jurnal-umsi.ac.id/index.php/tropical/article/view/997Karakteristik dan Kandungan Unsur Hara Nitrogen Pupuk Organik Cair Berbahan Dasar Urin Sapi 2025-09-29T11:39:41+00:00Nur Azisyah Imrannurazisyahimran@gmail.comMuhammad Nur Hidayatmuhammad.nurhidayat@uin-alauddin.ac.idRusny RusnyRusny@uin-alauddin.ac.id<p>Pengolahan urin sapi menjadi pupuk organik salah satu upaya untuk mengatasi masalah pencemaran lingkungan dan menghasilkan pupuk organik cair sumber nitrogen yang ramah lingkungan. Tujuan penelitian untuk mengetahui kandungan unsur hara nitrogen pada pupuk organik cair dibuat dari urin sapi dan dikombinasikan dengan limbah pertanian. Penelitian ini menggunakan metode rancangan acak lengkap dengan 4 perlakuan dan 4 kali ulangan sehingga terdapat 16 unit percobaan. Perlakuan pada peneltian ini meliputi P0 (2 L urin sapi+10 mL EM4+60 ml molases), P1 (2 l urin sapi+10 ml EM4+60 ml molases+250 g sabut kelapa), P2 (2 l urin sapi+10 ml EM4+60 ml molases+250 g sabut kelapa+250 g limbah sayur kubis dan P3 (2 l urin sapi+10 ml EM4+60 ml molases+250 g sabut kelapa +250 g limbah sayur kubis+250 g batang pisang). Hasil sidik ragam menunjukkan perlakuan tidak signifikan (P>0,05) terhadap kandungan unsur hara nitrogen pupuk organik cair. Rataan kandungan nitrogen pupuk organik cair berada pada kisaran 0,65% sampai 0,71%. Pengolahan urin sapi sebagai bahan dasar pembuatan pupuk organik cair yang dikombinasikan limbah pertanian belum memberikan perbedaan yang siginifikan secara statistik dengan tanpa penambahan limbah pertanian.</p>2025-12-01T00:00:00+00:00Copyright (c) 2025 Nur Azisyah Imran, Muhammad Nur Hidayat, Rusny Rusnyhttps://jurnal-umsi.ac.id/index.php/tropical/article/view/989Karakterisasi Mikrostruktur dan Komposisi Elemental Whey Protein sebagai Bahan Film Biodegradable2025-11-06T00:43:04+00:00Fahrullah Fahrullahfahrullah@unram.ac.idDjoko Kisworodjokokisworo@unram.ac.idAzhary Noersidiqaz.noersidiq@unram.ac.id<p>Akumulasi limbah plastik yang menimbulkan berbagai permasalahan lingkungan mendorong pengembangan bahan kemasan pangan ramah lingkungan, salah satunya melalui penelitian penggunaan whey protein sebagai bahan dasar pembuatan film biodegradable. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis mikrostruktur dan komposisi unsur whey protein menggunakan teknik <em>Scanning Electron Microscopy</em> (SEM) dan <em>Energy Dispersive X-ray Spectroscopy</em> (EDS), serta mengevaluasi kaitannya dengan potensi aplikasi whey protein sebagai bahan film biodegradable. Serangkaian pengamatan mikrostruktur dilakukan menggunakan mikroskop elektron pemindai (SEM), sedangkan analisis komposisi unsur dilakukan melalui spektroskopi sinar-X dispersi energi (EDS) untuk mengetahui profil kandungan unsur pada permukaan whey protein. Data dianalisis secara deskriptif untuk menginterpretasikan sifat morfologi dan kimia dari sampel. Hasil SEM menunjukkan bahwa whey protein memiliki struktur permukaan yang kasar, tidak beraturan, dan cenderung membentuk agregat yang ditandai dengan pori-pori mikroskopis. Sifat-sifat ini mendukung luas permukaan yang tinggi dan reaktivitas yang baik, meskipun agregasi yang besar dapat berdampak negatif terhadap stabilitas dan homogenitas larutan. Hasil EDS menunjukkan dominasi unsur karbon dan oksigen, serta keberadaan mineral seperti natrium (Na), kalium (K), kalsium (Ca), dan magnesium (Mg). Mineral-mineral ini diketahui berperan dalam pembentukan jaringan dan stabilitas struktur protein melalui ikatan ionik. Kombinasi antara mikrostruktur yang kompleks dan komposisi unsur fungsional menjadikan whey protein sebagai bahan yang berpotensi untuk dikembangkan menjadi film biodegradable yang mendukung inovasi kemasan pangan berkelanjutan.</p>2025-12-01T00:00:00+00:00Copyright (c) 2025 Fahrullah Fahrullah, Djoko Kisworo, Azhary Noersidiqhttps://jurnal-umsi.ac.id/index.php/tropical/article/view/996Respon Hematologi Sel Darah Putih (Eosinofil) pada Sapi Bali yang Terinfestasi Cacing 2025-11-04T10:39:25+00:00Aminurrahman Aminurrahmanaminurrahman@staff.unram.ac.idRyan Aryadin Putraryanaryadinputra@gmail.comI Gede Nano Septianigedenanoseptian@gmail.comRezki Amalyadirezkiamalyadi@staff.unram.ac.idKhairil Anwarkhairilanwar@gmail.comI Wayan Lanus Sumadiasa wayanlanus@gmail.com<p>Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jumlah eosinofil pada sapi Bali yang terinfestasi cacing. Tiga puluh sapi Bali digunakan dalam penelitian ini diperiksa jumlah telur cacing dengan metode sedimentasi dan metode apung dan jumlah eosinofil dengan metode differensial leukosit dan data ini diuji menggunakan t-Test dan uji regresi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa skor kondisi badan sapi Bali yang terinfestasi cacing trematoda (3,1±1,19) dengan terinfestasi cacing nematoda (2,9±1,66) tidak berbeda nyata (P>0,05). Jumlah eosinofil (10<sup>3</sup>/μl) sapi bali yang terinfestasi cacing trematoda (14,5±7,93 ) dengan terinfestas cacing nematoda(14,2±5,57) tidak berbeda nyata (P>0,05). Jumlah telur cacing (<em>egg</em>/g feses) pada sapi yang terinfestasi cacing nematoda (19,4±14,34) sangat berbeda nyata terhadap jumlah telur cacing pada sapi yang terinfestasi cacing trematoda (4,4±4,47) (P<0,01). Dari hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa peningkatan jumlah telur cacing dan jumlah eosinofil yang terinfeksi trematoda tidak mempengaruhi kondisi badan sapi Bali. Sedangkan jumlah telur cacing dan jumlah eosinofil yang terinfeksi nematoda mempengaruhi kondisi badan sapi Bali.</p>2025-12-01T00:00:00+00:00Copyright (c) 2025 Aminurrahman Aminurrahman, Ryan Aryadin Putra, I Gede Nano Septian, Rezki Amalyadi, Khairil Anwar, I Wayan Lanus Sumadiasa https://jurnal-umsi.ac.id/index.php/tropical/article/view/993Identifikasi Keragaman Kerbau Lokal Berdasarkan Mikrosatelit Lokus CSSM038 di Kabupaten Dompu2025-09-29T11:40:59+00:00Eva Amalia Pertiwieva04amalia@staff.unram.ac.idLuluk Lailatun Nurjannahluluklailatunnurjanah@gmail.comIkhwan Firhamsyahifirhamsah@staff.unram.ac.idIca Ayu Wandiraicaayuwandira@unram.ac.idIne Karniinekarni@unram.ac.idM Ridwan Saediedridwan3@gmail.comFadhil Muharramfadhilmuharram@faperta.unmul.ac.idFitri Yunitasarifitriyunitasari73@gmail.com<p>Kerbau lokal Dompu di kawasan Doroncanga, Nusa Tenggara Barat, merupakan sumber daya genetik penting yang berperan dalam sistem pertanian tradisional dan ekonomi masyarakat setempat. Namun, informasi mengenai keragaman genetiknya masih terbatas, padahal data tersebut sangat diperlukan untuk mendukung program pemuliaan dan konservasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi tingkat keragaman genetik kerbau lokal berdasarkan analisis mikrosatelit lokus CSSM038 menggunakan teknik <em>polymerase chain reaction</em> (PCR). Sebanyak empat puluh sampel darah kerbau lokal yang sehat secara klinis diambil secara <em>purposive sampling</em> dari peternakan rakyat di Doroncanga, Kabupaten Dompu. DNA hasil ekstraksi diamplifikasi menggunakan primer spesifik CSSM038 dan divisualisasikan melalui elektroforesis gel agarosa 1,5 persen. Analisis frekuensi alel dan genotipe dilakukan untuk menentukan tingkat variasi genetik antar individu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa seluruh sampel memiliki genotipe homozigot AA dengan frekuensi alel A sebesar seratus persen, yang menandakan lokus CSSM038 bersifat monomorfik pada populasi kerbau lokal Dompu. Kondisi ini mengindikasikan rendahnya keragaman genetik yang diduga dipengaruhi oleh ukuran populasi efektif yang kecil, isolasi geografis, serta pola perkawinan tidak terarah di tingkat peternakan rakyat. Kesimpulannya, populasi kerbau lokal Doroncanga menunjukkan homogenitas genetik pada lokus CSSM038, sehingga diperlukan penelitian lanjutan menggunakan penanda genetik lain dan cakupan wilayah yang lebih luas untuk memperoleh gambaran komprehensif mengenai struktur genetik kerbau lokal di Nusa Tenggara Barat serta sebagai dasar penyusunan strategi konservasi genetik yang berkelanjutan.</p>2025-12-03T00:00:00+00:00Copyright (c) 2025 Eva Amalia Pertiwi; Luluk Lailatun Nurjannah, Ikhwan Firhamsyah, Ica Ayu Wandira, Ine Karni, M Ridwan Saedi; Fadhil Muharram, Fitri Yunitasarihttps://jurnal-umsi.ac.id/index.php/tropical/article/view/1021Analisis Tren Populasi Sapi dan Kerbau di Kabupaten Tanah Laut 2025-10-07T02:43:55+00:00Itang Purnamaitangpurnama25@gmail.comIrma Irmairma24@politala.ac.idTati Rohayatitatirohayati@gmail.comDaeva Mubarika Raisadaevamubarikaraisa@gmail.com<p>Populasi ternak ruminansia, khususnya sapi dan kerbau, memiliki peran penting dalam mendukung ketersediaan daging serta menjaga ketahanan pangan daerah. Perubahan dinamika populasi kedua komoditas ini di Kabupaten Tanah Laut perlu dianalisis secara komprehensif guna memberikan gambaran tren jangka Panjang. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis tren populasi sapi dan kerbau di Kabupaten Tanah Laut dengan menggunakan metode <em>Compound Annual Growth Rate</em> (CAGR). Data yang digunakan merupakan data sekunder berbentuk <em>time series</em> periode 2020–2024 yang diperoleh dari Badan Pusat Statistik Kabupaten Tanah Laut, serta proyeksi populasi hingga tahun 2029. Variabel penelitian meliputi gross populasi dan net populasi sapi serta kerbau, yang dianalisis untuk mengetahui pola pertumbuhan jangka panjang. Hasil analisis menunjukkan bahwa populasi sapi mengalami penurunan dengan nilai CAGR sebesar -2,36% per tahun, sedangkan populasi kerbau menunjukkan penurunan yang lebih tajam dengan nilai CAGR sebesar -21,26% per tahun. Temuan ini mengindikasikan bahwa keberlanjutan populasi sapi masih memiliki peluang untuk dipertahankan melalui pengelolaan yang tepat, sedangkan populasi kerbau berada pada kondisi kritis dan memerlukan intervensi segera. Penelitian ini merekomendasikan perlunya strategi pengelolaan spesifik, antara lain pengendalian pemotongan, peningkatan produktivitas reproduksi, perbaikan manajemen pakan, serta program konservasi plasma nutfah khusus untuk kerbau. Dengan demikian, hasil penelitian ini dapat menjadi dasar bagi pemerintah daerah dan pemangku kepentingan dalam merumuskan kebijakan pembangunan peternakan berkelanjutan di Kabupaten Tanah Laut.</p>2025-12-04T00:00:00+00:00Copyright (c) 2025 Itang Purnama, Irma Irma, Tati Rohayati, Daeva Mubarika Raisahttps://jurnal-umsi.ac.id/index.php/tropical/article/view/995Struktur dan Dinamika Populasi Sapi Bali di Kecamatan Kusambi Kabupaten Muna Barat 2025-12-03T11:57:37+00:00Irwansyah Irwansyahpeternakanirwansyah@gmail.comSuparman Suparmansuparmanbb@gmail.comJunaedi Junaedijunaedi.peternakan@gmail.comAndi Ariandi Alimuddinandiariandialimudin@gmail.comMuhammad Erik Kurniawanmuh.erikkurniawan@ymail.com<p>Struktur populasi dan dinamika populasi merupakan substansi utama dalam menentukan arah pengembangan populasi ternak sapi Bali. Jumlah populasi sapi Bali di Kecamatan Kusambi Kabupaten Muna Barat mengalami penurunan yang signifikan dalam kurun waktu tiga tahun terakhir. Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh data mengenai struktur dan dinamika populasi serta pertumbuhan alami sapi Bali di Kecamatan Kusambi Kabupaten Muna Barat. Penelitian ini menggunakan metode survei dengan teknik sampling yaitu <em>p</em><em>urposive </em><em>s</em><em>ampling </em>yang berjumlah 3 desa dari 10 desa di Kecamatan Kusambi Kabupaten Muna Barat dengan memilih wilayah desa yang memiliki populasi sapi Bali tinggi. Variabel yang diamati yaitu jumlah sapi dewasa, sapi muda, dan anak sapi berdasarkan jenis kelamin, angka kematian, angka pengeluaran ternak dan angka pemasukan ternak, dan <em>natural increase </em>(Ni). Data analisis dengan statistik deskriptif. Struktur populasi sapi Bali di Kecamatan Musambi Kabupaten Muna Barat didominasi oleh sapi betina dewasa sebesar 203 ekor atau 23,79% dan yang paling rendah adalah sapi jantan anak sebanyak 99 ekor atau 11,69%. Terjadi penurunan jumlah populasi sapi Bali di Kecamatan Musambi Kabupaten Muna Barat pada tahun 2021 hingga tahun 2023 sebanyak 121 ekor dengan rata-rata penurunan populasi setiap tahunnya sebanyak 61 ekor (6,25%), sedangkan penambahan populasi hanya sebanyak 4 ekor atau 0,41% dari total populasi. Nilai <em>natural increase</em> (pertumbuhan alami) sapi Bali di Kecamatan Kusambi Kabupaten Muna Barat pada tahun 2021 hingga 2023 masing sebesar 24,48%, 9,80%, dan 11,10%.</p>2025-12-11T00:00:00+00:00Copyright (c) 2025 Irwansyah Irwansyah, Suparman Suparman, Junaedi Junaedi, Andi Ariandi Alimuddin, Muhammad Erik Kurniawanhttps://jurnal-umsi.ac.id/index.php/tropical/article/view/976Analisis Evaluatif Terhadap Pelaksanaan Program Transfer Embrio Sapi Limosin: Persepsi, Kepuasan, dan Kendala di Tingkat Peternak di Kabupaten Tuban2025-11-02T02:10:47+00:00Arto Kamadingartokamading@gmail.comKarunia Setyowati Surotoniekarunia@gmail.comRosyida Fajri Rinantirosyidafajririnanti@gmail.comMuhammad Anugrah Ramadhanmuhammadanugrahramadhan@gmail.com<p>Penelitian ini bertujuan menganalisis evaluatif persepsi, kepuasan, dan kendala peternak di kabupaten Tuban terhadap pelaksanaan program transfer embrio sapi Limosin. Penelitian ini tergolong deskriptif kuantitatif menggunakan statistik untuk mendeskripsikan, menganalisis, dan menjelaskan subjek yang sedang diselidiki dan untuk menarik kesimpulan tentang kejadian yang dapat diamati. Populasi dalam penelitian ini adalah peternak yang telah melakukan transfer embrio di Kabupaten Tuban. Hasil perolehan rata-rata dari indikator sarana dan prasarana mendapatkan nilai 3,83 dengan kategori tinggi, indikator penanganan pengaduan dan masukan memperoleh nilai 3,63 dengan kategori tinggi, indikator perilaku pelaksana memperoleh nilai 4,47. Penilaian terhadap layanan embrio transfer (ET) di Kabupaten Tuban menunjukkan bahwa para peternak menilai kualitas layanan berada pada kategori tinggi hingga sangat tinggi pada seluruh indikator yang diukur. Skor tertinggi pada indikator perilaku pelaksana (4,47), yang menunjukkan bahwa peternak sangat menghargai sikap, etika kerja, dan profesionalitas petugas ET. Indikator lain seperti prosedur (4,25), produk layanan (4,30), dan waktu layanan (4,27) juga berada dalam kategori sangat tinggi, yang menandakan bahwa layanan ET diberikan secara efisien dan mampu memenuhi harapan peternak. Sementara itu, fasilitas dan prasarana (3,83), kompetensi pelaksana (3,98), penanganan keluhan (3,63), serta persyaratan layanan (3,60) berada pada kategori tinggi. Hal ini menunjukkan bahwa aspek-aspek tersebut sudah berjalan dengan baik namun masih memiliki ruang untuk ditingkatkan. Temuan ini mengindikasikan bahwa program ET di Kabupaten Tuban secara umum diterima dengan baik dan dianggap efektif oleh peternak, namun penguatan pada fasilitas pendukung serta peningkatan sistem penanganan keluhan dapat semakin meningkatkan kepuasan peternak dan mendorong adopsi teknologi ET yang lebih luas di wilayah tersebut.</p>2025-12-18T00:00:00+00:00Copyright (c) 2025 Arto Kamading, Karunia Setyowati Suroto, Rosyida Fajri Rinanti, Muhammad Anugrah Ramadhanhttps://jurnal-umsi.ac.id/index.php/tropical/article/view/1067Motility and Viability of Kampung Chicken Sperm Using Diluents Containing Glycine and Glucose2025-12-12T08:13:40+00:00La Ode Muhammad Aswad Salamlaodeaswadsalam@gmail.comLa Ode Muhammad Iskandar Zulkarnainlaodemuhammadiskandar@gmail.comRani Ramadhaniraniramadhani@gmail.comJunaedi Junaedijunaedi.peternakan@gmail.comKhaeruddin Khaeruddinerukhaeruddin@gmail.com<p>The success of an artificial insemination program in native chickens is largely determined by the quality of liquid semen used during storage. This study aimed to evaluate the effect of diluents containing 30 mM glucose, 30 mM glycine, and a combination of both on the motility and viability of native chicken liquid semen stored at 3-5°C. The study used a Completely Randomized Design (CRD) with four treatments: control, 30 mM glucose, 30 mM glycine, and a combination of 30 mM glucose-glycine, each with five replications. Fresh semen from three native roosters aged 10-14 months was collected using the massage method, then diluted with a Ringer's lactate-egg yolk-based diluent at a ratio of 1:5. Evaluation of spermatozoa motility and viability was carried out daily for three days of storage. Data were analyzed using ANOVA followed by Duncan's Multiple Range Test at a significance level of 5%. The results showed that on the first day, all treatments had motility 75.76-75.85% and viability 87.03-88.32% which were not significantly different (P>0.05). On the second and third days, the 30 mM glycine treatment and combination showed significantly higher motility 42.02-42.20% and 33.19-33.22% respectively, and viability 67.87-67.92% and 57.89-57.90% respectively compared to the control and single glucose. The 30 mM glucose treatment did not show any superiority over the control. It was concluded that 30 mM glycine supplementation, either alone or in combination with glucose, effectively maintained the quality of native chicken liquid semen for up to three days of storage through osmoprotection and antioxidative mechanisms.</p>2025-12-26T00:00:00+00:00Copyright (c) 2025 La Ode Aswad Salam, LaOde Muhammad Iskandar Zulkarnain, Rani Ramadhani, Junaedi Junaedi, Khaeruddin Khaeruddinhttps://jurnal-umsi.ac.id/index.php/tropical/article/view/1029Perbedaan Tingkah Laku Cempe Kambing Perah yang Dipelihara tanpa Induk dan dengan Induk 2025-12-11T00:55:20+00:00Ken Chandara Pramudawardhaniasri.wulansari@unpad.ac.idAsri Wulansariasri.wulansari@unpad.ac.id<p>Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan tingkah laku cempe kambing perah yang dipelihara dengan induk dan tanpa induk di Pusaka Farm Sumedang. Sepuluh ekor cempe berumur 1-2 bulan dikelompokkan menjadi P1: dengan induk dan P2: tanpa induk. Pengamatan dilakukan selama 25 hari pada pagi dan sore dengan durasi 1 jam. Metode pengamatan dilakukan dengan observasi langsung pada lima parameter tingkah laku yaitu durasi menyusu, <em>oral behaviour</em>, vokalisasi, durasi tidur, dan respon terhadap manusia dan diukur menggunakan skala skoring, yang kemudian di uji t-test. Hasil menunjukkan bahwa perilaku <em>oral behaviour</em>, vokalisasi, dan respon terhadap manusia berbeda signifikan (P<0,05), sementara durasi menyusu dan tidur tidak berbeda nyata (P>0,05). Cempe tanpa induk menunjukkan kecenderungan stres sosial lebih tinggi melalui perilaku eksplorasi dan ketergantungan terhadap manusia. Temuan ini penting dalam mendukung strategi pemeliharaan cempe berbasis kesejahteraan hewan. Oleh karena itu, penerapan sistem pemeliharaan tanpa induk disarankan untuk disertai pengelolaan lingkungan, pemisahan secara bertahap dan interaksi sosial yang memadai guna meminimalkan stres dan mendukung kesejahteraan cempe.</p>2025-12-27T00:00:00+00:00Copyright (c) 2025 Ken Chandara Pramudawardhani, Asri Wulansarihttps://jurnal-umsi.ac.id/index.php/tropical/article/view/1083Analisis Hubungan Respon Fisiologis terhadap Kualitas Semen Ayam Kampung (Gallus gallus domesticus)2025-12-28T08:12:03+00:00Hermawansyah Hermawansyahhermawansyah.10@gmail.comKhaeruddin Khaeruddinerukhaeruddin@gmail.comZaidatul Riskazaidatulriska@gmail.comBahri Syamsuryadibahrisyamsuryadi25@gmail.comRika Nurfianarikanurfiana@gmail.comRachmat Budiantorachmatbudianto@gmail.com<p>Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh respon fisiologis terhadap kualitas semen ayam kampung (<em>Gallus gallus domesticus</em>). Ayam kampung jantan 15 ekor yang dipelihara dalam kendang individu digunakan dalam penelitian ini. Variabel respon fisiologis yang diamati meliputi denyut jantung, frekuensi pernapasan, dan suhu rektal. Segera setelah pengamatan respon fisiologis dilakukan koleksi semen dengan metode pemijatan dan dilakukan evaluasi semen. Parameter kualitas semen meliputi motilitas spermatozoa, volume semen, pH semen, dan konsentrasi spermatozoa. Data respon fisiologis dan kualitas semen disajikan secara deskriptif kemudian dianalisis menggunakan metode regresi linier sederhana. Rata-rata denyut jantung ayam kampung 259,6 kali/menit, frekuensi pernapasan 33 kali/menit dan suhu rektal 41,41 °C. Rata-rata volume semen 0,26 ml, pH semen 7,32, konsentrasi 3,08 milyar/ml, dan motilitas spermatozoa 86% . Hasil analisis regresi menunjukkan bahwa tidak terdapat pengaruh yang signifikan signifikan antara denyut jantung, frekuensi pernapasan, dan suhu rektal terhadap seluruh parameter kualitas semen. Hasil ini mengindikasikan tidak adanya hubungan antara kualitas semen dengan respon fisiologis yang diukur sesaat sebelum proses koleksi semen.</p>2025-12-31T00:00:00+00:00Copyright (c) 2025 Hermawansyah Hermawansyah, Khaeruddin Khaeruddin, Zaidatul Riska, Bahri Syamsuryadi, Rika Nurfiana, Rachmat Budianto