Perbandingan Waktu Pubertas Ayam KUB dan Ayam Kampung Lokal yang Dipelihara Secara Tradisional

Main Article Content

Muhammad Arsan Jamili

Abstract

Ayam lokal umumnya dipelihara oleh masyarakat di pedesaan dengan sistem pemeliharaan secara ekstensif tradisional. Produktivitas ayam kampung yang dipelihara secara tradisional masin rendah.termasuk waktu pubertas. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui waktu pubertas ayam kampung local dan ayam Kampung Unggul Balitbangtan (KUB) yang dipelihara secara Tradisional. Penelitian ini menggunakan masing-masing 15 ekor jenis ayam Kampung Unggul Balitbangtan (KUB) dan Ayam Kampung lokal yang dipelihara masih berusia 2 bulan. Ayam Penelitian dipelihara di kandang yang sama dengan ruangan yang berbeda. Pakan yang diberikan pada pagi hari sebelum ayam dikeluarkan/ diumbar hanya berupa dedak padi. Selanjutnya ayam dilepas mencari makanan sendiri sepanjang hari. Parameter yang diukur pada penelitian ini yaitu waktu pubertas atau dewasa kelamin yang ditandai dengan produksi telur pertama kali oleh ternak ayam betina. Penelitian ini menggunakan uji Independent Sample T-Test dan dianalisis menggunakan aplikasi SPSS. Kesimpulan dari penelitian ini yaitu masa pubertas atau waktu pertama kali ayam bertelur yang dipelihara secara tradisional ayam Kampung Unggul Balitbangtan (KUB) lebih cepat dari ayam kampung Lokal. Secara system pemeliharaan, waktu pubertas ayam baik KUB maupun ayam kampung lokal yang dipelihara secara tradisional lebih lama daripada yang dipelihara secara intensif.


Local chickens are generally kept by people in rural areas with extensive or traditional rearing systems. In general, the productivity of native chickens kept traditionally is still low. The intensive selection carried out by Balitbangtan produces superior native chickens in terms of productivity and adaptation, namely the Kampung Unggul Balitbangtan (KUB) chickens. The superiority of KUB chickens is thought to also have superior reproductive performance, one of which is the timing of puberty.  This study used each of 15 types of KUB chickens and local native chickens that were kept 2 months old. Research chickens were kept in the same cage in a different room. The feed given in the morning before the chickens were released was only in the form of rice bran. Then the chickens are released to find their own food throughout the day. The parameters measured in this study were the time of puberty or sexual maturity which was marked by the first egg production by female chickens. This study used the Independent Sample T-Test and analyzed using the SPSS application. The conclusion of this study is that the period of puberty or the first time the chickens laid eggs traditionally reared KUB chickens are faster than local native chickens. In the maintenance system, the puberty time for both KUB and local native chickens that are kept traditionally is longer than those that are kept intensively.

Article Details

How to Cite
Jamili, M. A. (2022). Perbandingan Waktu Pubertas Ayam KUB dan Ayam Kampung Lokal yang Dipelihara Secara Tradisional. Tarjih Tropical Livestock Journal, 2(1), 1–6. https://doi.org/10.47030/trolija.v2i1.350
Section
Articles

References

Belay, S., Resom, M., Yemane, H., & Amare H. (2018). Production performance evaluation of koekoek chicken under farmer management practice in Tigray region, northern Ethiopia. Int J Livest Prod, 9, 232-237.

Hidayat, C., Iskandar, S., & Sartika, T. (2011). Respon kinerja perteluran ayam Kampung Unggul Balitnak (KUB) terhadap perlakuan protein ransum pada masa pertumbuhan. Jurnal Imu Ternak dan Veteriner, 16, 83-89.

Iskandar, S., & Sartika, T. (2014). KUB chicken: The first Indonesian kampung chicken selected for egg production. Proceedings of the 16th AAAP Animal Science Congress Vol II. ,Yogyakarta (Indonesia): Gadjah Mada University. hlm. 157-160.

Lambey, L. J., & Sane, S. (2019). Kelompok Peternak Ayam Buras Di Lemo Kecamatan Tombariri. Prosiding Seminar Nasional Sains Dan Terapan 2019, Manado: Fakultas MIPA Universitas Sam Ratulangi. (hlm. 82-84).

Mengesha, M. (2012). Indigenous chicken production and the innate characteristic. Asian J.Poult Sci, 6, 56-64.

Nawawi, T., & Nurrohmah. (1996). Ransum Ayam Kampung. Jakarta: Penebar Swadaya.

Noor, R. R., & Seminar, K. B. (2009). Rahasia dan Hikmah Pewarisan Sifat. Bogor: IPB Press.

Priwardana, F. O. (2019). Pengaruh Bangsa dan Umur Potong terhadap Persentase Karkas dan Meat Bone Ratio Sapi Potong. Disertasi. Yogyakarta: Universitas Mercu Buana Yogyakarta.

Putri, A. B. S. R. N., Gushairiyanto, G., & Depison, D. (2021). Karakteristik kuantitatif dan jarak genetik beberapa galur ayam lokal. Jurnal Ilmu Peternakan dan Veteriner Tropis, 11(2), 99-106.

Resnawati, H., & Bintang, I. (2014). Kebutuhan pakan ayam kampung pada reriode pertumbuhan. Lokakarya Nasional Inovasi Teknologi Pengembangan Ayam Lokal, hlm. 138-141.

Romjali, E., Subiharta, S., Hasinah, H., Pamungkas, F. A., & Matondang, R. (2020). Kinerja produksi dan reproduksi ayam KUB di peternak pembibit. Prosiding Seminar Nasional Teknologi Peternakan dan Veteriner. hlm. 717-721.

Sartika, T., Desmayati, Iskandar, S., Resnawati, H., Setioko, A.R., Sumanto, Sinurat, A.P., Isbandi, Tiesnamurti, B., Romjali, E. (2013). Ayam KUB-1. Jakarta: Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian.

Siahaan, N. B., Suprijatna, E., & Mahfudz, L.D. (2013). Pengaruh penambahan tepung jahe merah (Zingiber officinale var. Rubrum) dalam ransum terhadap bobot badan dan produksi telur ayam kampung periode layer. Animal Agriculture Journal, 2(1), 478-488.

Suprijatna, E. (2010). Strategi pengembangan ayam lokal berbasis sumber daya lokal dan berwawasan lingkungan. Prosiding Seminar Nasional Unggas Lokal ke-IV. Hlm. 55-79.

Suprijatna, E., & Natawihardja, D. (2005). Pertumbuhan organ reproduksi ayam ras petelur dan dampaknya terhadap performans produksi telur akibat pemberian ransum dengan taraf protein berbeda saat periode pertumbuhan. Jurnal Ilmu Ternak dan Veteriner, 10(4), 260-267.

Zakaria, S. (2004). Performansi ayam buras fase dara yang dipelihara secara intensif dan semiintensif dengan tingkat kepadatan kandang yang berbeda. Bulletin Nutrisi dan Makanan Ternak. 5(1), 41−45.